Kamis, 25 Juli 2013

Lapak Oishii Cookies.... mmmmm Yummmyyy

Besar @Rp 50.000 | Kecil -

Kecil Rp 25.000 | Besar Rp 40.000

Tidak ada ukurannya @ Rp 40.000

Kecil Rp 25.000 | Besar Rp 40.000

Besar @Rp 45.000 | Kecil -

Kecil @Rp 27.500 | Besar @ Rp 60.000

Kecil @ Rp 35.000 | Besar @ Rp 65.000

Besar @Rp 45.000 | Kecil -

Parcel (Toples Kecil semua) 6 Mcm Rp 165.000

Parcel (Toples Besar Semua) 6 Mcm Rp 265.000


Kecil @Rp 25.000 | Besar @ Rp 40.000

TRAY "Cookies" (Keju, Brownies, Nastar keju) Rp. 100.000

Pesanan hanya 1 minggu sebelum Idul Fitri


Contact Person:

Anggia Pratiwi

081322730721

anggia_pratiwi@yahoo.com


Kamis, 11 Juli 2013

Astria's Diary - Paradoks Tarawih



Belum hilang dalam ingatan, setahun yang lalu, saya dan kawan saya Meri shalat tarawih dan I’tikaf di Istiqlal. Meri bisa dibilang kawan seperjuangan, kami sama-sama belajar di kampus bermaskot gajah di Bandung selama 4 tahun. 
Saya masih sangat ingat, waktu itu, kami duduk di bangku persegi panjang, di depan gerobak ketoprak, sambil melihat gedung di depan Istiqlal.
“Mau kerja di situ Mer?” Tanya saya pada Meri.
“Mau Astria”
“Minta Mer sama Allah, Insya Allah, dikasih dah. Lu sih Mer, abis shalat ga suka berdo’a. Berdo’a dond” Sambil saya menepuk pundak Meri.
“Iya, abis bingung mau minta apa” Jawab Meri.

“Ar Rahmaaan ‘allaamal qur’an” suara itu membangunkan lamunan saya, konsentrasi langsung saya arahkan pada I’tikaf malam ini dan menyimpan sementara kenangan I’tikaf setahun yang lalu.
Buset, dalam hatiku...., sepertinya imam ini akan membaca penuh surat Ar-Rahman. Saya dengarkan suara merdu dan lirihnya imam membacakan surat Ar-Rahman. Panasnya udara di mesjid yang mengganggu membuat saya seringkali melakukan gerakan, bentar-bentar mengusap keringat, bentar-bentar memperbaiki celana yang kedodoran, kadang sesekali menggaruk-garuk badan yang gatal. Kemeja kotak-kotak berwarna abu-abu ini juga berkontribusi menambah kalor di sekitar saya, 

fiuh... gerah..... Sepertinya rasa panas yang diderita juga disebabkan bahan mukena yang terbuat dari parasut abutai.

Sesekali imam menangis ketika melafalkan bacaan quran, ada beberapa juga jama’ah yang ikut menangis, seisi mesjid begitu riuh dengan suara tangisan. Saya tidak menangis, kalaupun menangis mungkin saya menangis karena panasnya mukena ini, atau mungkin karena sekujur badan saya yang berkeringat dan celana yang kedodoran. 

Surat Ar-Rahman selesai, saking ringannya mukena abutai ini, sesekali saat ruku mukena ini mengayun ke sebelah kiri saya, bahkan sampai menghalangi wajah jama’ah di sebelah saya. Dengan sigap saya langsung meraih mukena yang tak tahu sopan santun ini. Rakaat kedua dimulai, kali ini imam melantunkan surat Al-Mulk. “Ah Al-Mulk bolehlah” hatiku bergumam, beberapa menit tepatnya saat ayat ketiga, tiba-tiba datang seorang anak kecil. Dia menangis di samping saya dan menatap ibunya sambil merengek-rengek minta di gendong. 

Sesekali saya mencuri pandang melihat wajah anak kecil yang malang itu. Rambutnya berponi, pendek, pipinya cembung, “mirip saya waktu kecil” dalam hati saya bergumam. Tiba-tiba saya ingat ibu. Saya ingat sikap-sikap nakal saya pada ibu, suka mengejek masakannya, berontak, dan masih banyak lagi tingkah saya yang menjengkelkan. Baju kura-kura ninja pun melintas dalam pikiran saya, saya ingat masa kecil saya. Tidak saya sadari air mata turun di pelupuk mata saya, saya menangis. Yang jadi masalah adalah saya menangis di saat orang-orang sudah selesai menangis dan berhenti menangis dan sepanjang tarawih pikiran saya mengembara kemana-mana. Jangan ditiru ya!