Belum hilang dalam ingatan, setahun
yang lalu, saya dan kawan saya Meri shalat tarawih dan I’tikaf di Istiqlal.
Meri bisa dibilang kawan seperjuangan, kami sama-sama belajar di kampus bermaskot gajah di Bandung
selama 4 tahun.
Saya masih sangat ingat, waktu itu,
kami duduk di bangku persegi panjang, di depan gerobak ketoprak, sambil melihat
gedung di depan Istiqlal.
“Mau kerja di situ Mer?” Tanya saya
pada Meri.
“Mau Astria”
“Minta Mer sama Allah, Insya Allah, dikasih dah. Lu sih Mer, abis shalat ga
suka berdo’a. Berdo’a dond” Sambil saya menepuk pundak Meri.
“Iya, abis bingung mau minta apa”
Jawab Meri.
“Ar Rahmaaan ‘allaamal qur’an” suara
itu membangunkan lamunan saya, konsentrasi langsung saya arahkan pada I’tikaf
malam ini dan menyimpan sementara kenangan I’tikaf setahun yang lalu.
Buset, dalam hatiku...., sepertinya imam
ini akan membaca penuh surat Ar-Rahman. Saya dengarkan suara merdu dan lirihnya
imam membacakan surat Ar-Rahman. Panasnya udara di mesjid yang mengganggu
membuat saya seringkali melakukan gerakan, bentar-bentar mengusap keringat,
bentar-bentar memperbaiki celana yang kedodoran, kadang sesekali
menggaruk-garuk badan yang gatal. Kemeja kotak-kotak berwarna abu-abu ini juga berkontribusi menambah
kalor di sekitar saya,
fiuh... gerah..... Sepertinya rasa
panas yang diderita juga disebabkan bahan mukena yang terbuat dari parasut
abutai.
Sesekali imam menangis ketika melafalkan
bacaan quran, ada beberapa juga jama’ah yang ikut menangis, seisi mesjid begitu riuh dengan suara tangisan. Saya tidak menangis, kalaupun menangis mungkin saya menangis karena
panasnya mukena ini, atau mungkin karena sekujur badan saya yang berkeringat
dan celana yang kedodoran.
Surat Ar-Rahman selesai, saking ringannya mukena
abutai ini, sesekali saat ruku mukena ini mengayun ke sebelah kiri saya, bahkan sampai menghalangi wajah jama’ah
di sebelah saya. Dengan sigap saya langsung meraih mukena yang tak tahu sopan
santun ini. Rakaat kedua dimulai, kali ini imam melantunkan surat Al-Mulk. “Ah Al-Mulk bolehlah” hatiku bergumam,
beberapa menit tepatnya saat ayat ketiga, tiba-tiba datang seorang anak kecil.
Dia menangis di samping saya dan menatap ibunya sambil merengek-rengek minta di
gendong.
Sesekali saya mencuri pandang melihat wajah anak kecil yang malang
itu. Rambutnya berponi, pendek, pipinya cembung, “mirip saya waktu kecil” dalam
hati saya bergumam. Tiba-tiba saya ingat ibu. Saya ingat sikap-sikap nakal saya
pada ibu, suka mengejek masakannya, berontak, dan masih banyak lagi tingkah saya
yang menjengkelkan. Baju kura-kura ninja pun melintas dalam pikiran saya, saya
ingat masa kecil saya. Tidak saya sadari air mata turun di pelupuk mata saya,
saya menangis. Yang jadi masalah adalah saya menangis di saat orang-orang sudah
selesai menangis dan berhenti menangis dan sepanjang tarawih pikiran saya mengembara kemana-mana. Jangan ditiru
ya!