Selasa, 26 Februari 2013

Astria's Diary



Pagi ini, sambil menunggu adzan shubuh tiba, saya ditemani kemon. Kemon siapa? Dia adalah hewan berkaki empat, berekor,  dan tentu kerkumis. Tiap kali dia datang ibu selalu menyediakan ikan. Semenjak kematian kemen, ibu memang selalu menyimpan tulang-tulang ikan di depan teras rumah. Tidak sedikit kucing yang datang, kemon adalah kucing yang konsisten datang ke teras rumah sekedar mencari tulang ikan. Lambat laun kemon mendapat perhatian ibu dan kini ia sering tinggal di rumah. Kemen dan Kemon adalah kucing yang berbeda. Dulu ada kucing tetangga yang sering datang kerumah, dia saya namai Kemen. Kemen sudah meninggal tanggal 5 Desember 2011. Kucing yang sekarang ada dipangkuan saya adalah Kemon. 

Tidak seperti biasa, pagi ini tepat jam 3 pagi saya langsung bangun, biasanya begitu alarm bunyi saya mencuri waktu beberapa menit untuk menuntaskan rasa kantuk saya. Alhamdulillaah rupanya otak ini masih waras, rangsangan yang masuk ke gendang telinga mendengar alarm, tangan kiri meraih telepon genggam di sebelah kanan saya, mata sudah siap membuka kedua kelopaknya, otak merespon. Dalam hati bergumam “Belum shalat isya” Tadi malam sesampainya di Bandung, badan saya memang ambruk dan “tewas” di atas pembaringan, memang hari itu melelahkan, karena saya yang sok jagoan ini menantang bermain badminton hingga akhirnya kelelahan dan menyerah saat tes lari tidak sampai lima keliling. Kedua kaki sudah siap melaksanakan aba-aba otak, bangkit untuk mengambil wudhu. Subhanallaah, dalam tubuh kita memang Allah sudah memerintahkan team work, semuanya sinergi, dan tidak satu anggota tubuhpun yang membantah perintah otak. Saya kagum. 

Ada yang beda dari kemon, dia lebih manja, kemanapun saya berjalan dia mengikuti saya. Sambil menunggu adzan shubuh saya putuskan untuk menulis. Saya ambil laptop diatas lemari dan jari-jari ini mulai menari-nari diatas keyboard laptop. Kemon menatap laptop yang saya buka, sepertinya dia ingin tahu benda apa yang sedang ada di hadapannya. Baiklah sambil memperlihatkan keahlian saya pada kemon, saya ingin bercerita tentang Angga, Anggi dan Astri.

Angga, Anggi, Astri, itulah nama kami. Banyak orang yang protes dengan kombinasi nama itu.

“Kok yang ketiga Astri? Kenapa tidak Anggun? Astri beda sendiri ya?”

Memang kombinasi Angga, Anggi dan Anggun terasa lebih serasi, tapi tidak serasi dengan karakter anak ketiga ini. Angga, artinya membanggakan, Anggi membahagiakan, Astri? Arti nama ini saja sepertinya ibu ragu, mungkin dia baru membuat artinya mendadak ketika saya tanya. Astri artinya anak saya ketiga itu kata ibu. Dibandingkan dengan arti nama kedua kakak-kakak saya, arti nama saya terkesan meaningless tapi tidak apalah bersyukur masih diberi nama. 

Ibu pernah bilang, dulu sebenarnya kami akan dinamai Alfa, Beta dan Gamma, tapi tidak jadi. Menurut saya, tidak jadi mungkin karena saat itu ibu belum yakin berapa banyak anak yang ingin dia lahirkan. Bila anak-anaknya hanya tiga, Alfa, Beta dan Gamma urutan yang pas. Tapi bila ternyata nanti ada anak keempat atu bahkan kelima mau dinamai apa? Omega? Lambda? Atau Epsilon? Bisa dibayangkan bila nama-nama kami adalah elemen yang ada dalam formula matematika. Kemungkinannya ada dua, kami jadi anak-anak yang pandai, atau jadi bahan olok-olok kawan-kawan kami, sepertinya ada kemungkinan yang lain, kami akan terkenal :). 

Saat sekolah dasar kami disekolahkan di sekolah yang sama, SD Banjarsari. Beranjak dewasa kami hampir memiliki kesamaan, menyukai olahraga. Tapi dalam hal hiburan kami berbeda. Angga biasanya lebih suka menonton film, bila ada film baru Angga sudah tahu di bioskop mana dia akan pergi nonton, Angga juga menyukai olahraga Sepak Bola, dia sangat suka memakai baju bola. Anggi lebih suka berkumpul dengan teman-temannya, dia suka merencanakan minggu depan kuliner dimana ya? Atau sekedar bermain di wahana hiburan untuk outing. 

Meskipun demikian Anggi tidak pernah lupa berbagi waktu kebersamaannya dengan keluarga. Berbeda dengan Angga yang senang membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian, perlengkapan pria seperti sepatu, topi, jaket. Anggi lebih senang membelanjakan uangnya untuk kuliner, jalan-jalan, dan kegiatan hiburan lain yang dia sukai. Anggi tidak suka membeli pakaian seperti Angga. Anggi tidak khawatir bila uangnya habis dibelikan untuk mengisi perutnya, berapapun tidak masalah baginya. Sama halnya saya juga tidak terlalu suka membeli pakaian. Kami memang berbeda tapi ibu selalu bilang kami adalah anak-anak yang baik. Bila Angga senang nonton, Anggi senang kuliner, saya lebih suka pergi ke toko buku di jalan Merdeka, bersebrangan dengan Bandung Indah Plaza. 

Bila sedang pergi bersama-sama saya suka mengajak.

“Ke Gramedia yuk?”

“De, plis dong masa Gramedia mulu” tukas Anggi.

“iya deh engga” jawab saya sambil menyeringai senyum.

Mungkin efek dari nama yang diberikan ibu membuat saya berbeda sendiri dari kedua kakak-kakak saya. Tapi saya juga bukan kutu buku yang selalu senang membaca, di waktu tertentu saya juga menyukai menonton film. Biasanya sebelum membeli film, saya dan Anggi mencari judul yang bagus untuk ditonton, science fiction, comedi, atau drama korea? Tapi sepertinya bukan yang ketiga :).

                Angga dan Anggi memang lebih santai dan easy going, banyak yang bilang saya terlalu serius seperti sedang memikirkan nasib rakyat :). Tapi terkadang saya juga suka becanda, saya paling suka membuat lelucon menirukan gaya orang berbicara. Bila saya melalukan itu, suasana rumah pasti penuh dengan gelak tawa.
 Adzan shubuh sudah berkumandang, sampai disini dulu tulisan saya.


Tunggu tulisan selanjutnya
Sabtu 23 Juni, jam 10:13 papah menggebrak meja customer service sebuah perusahaan pelayanan jasa di jalan Kopo Bandung sambil bersumpah akan memuat kekecewaannya di 7 surat kabar
To be continue...