Pagi ini,
sambil menunggu adzan shubuh tiba, saya ditemani kemon. Kemon siapa? Dia adalah
hewan berkaki empat, berekor, dan tentu
kerkumis. Tiap kali dia datang ibu selalu menyediakan ikan. Semenjak kematian
kemen, ibu memang selalu menyimpan tulang-tulang ikan di depan teras rumah.
Tidak sedikit kucing yang datang, kemon adalah kucing yang konsisten datang ke
teras rumah sekedar mencari tulang ikan. Lambat laun kemon mendapat perhatian
ibu dan kini ia sering tinggal di rumah. Kemen dan Kemon adalah kucing yang
berbeda. Dulu ada kucing tetangga yang sering datang kerumah, dia saya namai
Kemen. Kemen sudah meninggal tanggal 5 Desember 2011. Kucing yang sekarang ada
dipangkuan saya adalah Kemon.
Tidak seperti
biasa, pagi ini tepat jam 3 pagi saya langsung bangun, biasanya begitu alarm
bunyi saya mencuri waktu beberapa menit untuk menuntaskan rasa kantuk saya. Alhamdulillaah
rupanya otak ini masih waras, rangsangan yang masuk ke gendang telinga
mendengar alarm, tangan kiri meraih telepon genggam di sebelah kanan saya, mata
sudah siap membuka kedua kelopaknya, otak merespon. Dalam hati bergumam “Belum
shalat isya” Tadi malam sesampainya di Bandung, badan saya memang ambruk dan
“tewas” di atas pembaringan, memang hari itu melelahkan, karena saya yang sok
jagoan ini menantang bermain badminton hingga akhirnya kelelahan dan menyerah
saat tes lari tidak sampai lima keliling. Kedua kaki sudah siap melaksanakan
aba-aba otak, bangkit untuk mengambil wudhu. Subhanallaah, dalam tubuh kita
memang Allah sudah memerintahkan team work, semuanya sinergi, dan tidak satu
anggota tubuhpun yang membantah perintah otak. Saya kagum.
Ada yang beda
dari kemon, dia lebih manja, kemanapun saya berjalan dia mengikuti saya. Sambil
menunggu adzan shubuh saya putuskan untuk menulis. Saya ambil laptop diatas
lemari dan jari-jari ini mulai menari-nari diatas keyboard laptop. Kemon
menatap laptop yang saya buka, sepertinya dia ingin tahu benda apa yang sedang
ada di hadapannya. Baiklah sambil memperlihatkan keahlian saya pada kemon, saya
ingin bercerita tentang Angga, Anggi dan Astri.
Angga, Anggi, Astri, itulah nama
kami. Banyak orang yang protes dengan kombinasi nama itu.
“Kok yang ketiga Astri? Kenapa
tidak Anggun? Astri beda sendiri ya?”
Memang kombinasi Angga, Anggi dan
Anggun terasa lebih serasi, tapi tidak serasi dengan karakter anak ketiga ini.
Angga, artinya membanggakan, Anggi membahagiakan, Astri? Arti nama ini saja
sepertinya ibu ragu, mungkin dia baru membuat artinya mendadak ketika saya
tanya. Astri artinya anak saya ketiga itu kata ibu. Dibandingkan dengan arti
nama kedua kakak-kakak saya, arti nama saya terkesan meaningless tapi tidak apalah bersyukur masih diberi nama.
Ibu
pernah bilang, dulu sebenarnya kami akan dinamai Alfa, Beta dan Gamma, tapi
tidak jadi. Menurut saya, tidak jadi mungkin karena saat
itu ibu belum yakin berapa banyak anak yang ingin dia lahirkan. Bila anak-anaknya
hanya tiga, Alfa, Beta dan Gamma urutan yang pas. Tapi bila ternyata nanti ada
anak keempat atu bahkan kelima mau dinamai apa? Omega? Lambda? Atau Epsilon?
Bisa dibayangkan bila nama-nama kami adalah elemen yang ada dalam formula
matematika. Kemungkinannya ada dua, kami jadi anak-anak yang pandai, atau jadi
bahan olok-olok kawan-kawan kami, sepertinya ada kemungkinan yang lain, kami akan
terkenal :).
Saat sekolah dasar kami disekolahkan di sekolah yang sama, SD
Banjarsari. Beranjak dewasa kami hampir memiliki kesamaan, menyukai olahraga. Tapi
dalam hal hiburan kami berbeda. Angga biasanya lebih suka menonton film, bila
ada film baru Angga sudah tahu di bioskop mana dia akan pergi nonton, Angga
juga menyukai olahraga Sepak Bola, dia sangat suka memakai baju bola. Anggi lebih
suka berkumpul dengan teman-temannya, dia suka merencanakan minggu depan
kuliner dimana ya? Atau sekedar bermain di wahana hiburan untuk outing.
Meskipun
demikian Anggi tidak pernah lupa berbagi waktu kebersamaannya dengan keluarga. Berbeda
dengan Angga yang senang membelanjakan uangnya untuk membeli pakaian,
perlengkapan pria seperti sepatu, topi, jaket. Anggi lebih senang membelanjakan
uangnya untuk kuliner, jalan-jalan, dan kegiatan hiburan lain yang dia sukai.
Anggi tidak suka membeli pakaian seperti Angga. Anggi tidak khawatir bila uangnya habis
dibelikan untuk mengisi perutnya, berapapun tidak masalah baginya. Sama
halnya saya juga tidak terlalu suka membeli pakaian. Kami memang berbeda tapi
ibu selalu bilang kami adalah anak-anak yang baik. Bila Angga senang nonton,
Anggi senang kuliner, saya lebih suka pergi ke toko buku di jalan Merdeka, bersebrangan
dengan Bandung Indah Plaza.
Bila sedang pergi bersama-sama saya suka mengajak.
“Ke Gramedia yuk?”
“De, plis dong masa Gramedia
mulu” tukas Anggi.
“iya deh engga” jawab saya sambil
menyeringai senyum.
Mungkin efek dari nama yang
diberikan ibu membuat saya berbeda sendiri dari kedua kakak-kakak saya. Tapi
saya juga bukan kutu buku yang selalu senang membaca, di waktu tertentu saya
juga menyukai menonton film. Biasanya sebelum membeli film, saya dan Anggi
mencari judul yang bagus untuk ditonton, science fiction, comedi, atau drama
korea? Tapi sepertinya bukan yang ketiga :).
Angga
dan Anggi memang lebih santai dan easy going, banyak yang bilang saya terlalu
serius seperti sedang memikirkan nasib rakyat :). Tapi terkadang saya juga suka
becanda, saya paling suka membuat lelucon menirukan gaya orang berbicara. Bila
saya melalukan itu, suasana rumah pasti penuh dengan gelak tawa.
Adzan shubuh sudah berkumandang, sampai disini
dulu tulisan saya.
Tunggu tulisan selanjutnya
Sabtu 23 Juni, jam 10:13 papah
menggebrak meja customer service sebuah perusahaan pelayanan jasa di jalan Kopo
Bandung sambil bersumpah akan memuat kekecewaannya di 7 surat kabar
To be continue...